SQ.Alkisah dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menjajal sebuah kemampuan baru, yaitu menulis novel. Hal yang sangat menantang, karena jujur saja, saya tidak begitu ngeh untuk menulis karya fiksi. Saya memang penyuka novel. Tapi untuk urusan menulisnya, nanti dulu.
Bagi saya, menulis novel lebih repot ketimbang menulis buku. Buku bisa dibuat dari kumpulan-kumpulan artikel yang memiliki tema sama. Seperti buku Proses Kreatif, selama memiliki kesatuan ide yang ingin disampaikan, kumpulan tulisan sudah bisa dibukukan.
Memang untuk permisalan yang lebih menantang, ada juga buku yang dibuat untuk memperkenalkan sebuah konsep. Buku Quantum Ikhlas atau ESQ misalnya, memerlukan proses riset mendalam untuk menulisnya. Karena setiap babnya perlu memiliki hubungan yang kontinyu, analogi-analogi yang saling berhubungan, serta logika yang tidak lepas dari apa yang ingin disampaikan. (more…)






