Guru Profesional, Pembaca, dan Penulis

 

 

 

 

 

Menyoal kemampuan membaca dan menulis bagi guru, rasanya tak bisa lepas dari sisi profesionalisme guru itu sendiri. Kenapa guru mesti membaca dan menulis? Alasannya sangat jelas.

Bahwa guru ialah figur yang memegang profesi sebagai pendidik generasi muda. Sebagai pendidik, guru mesti memberikan teladan pendidikan. Meski harus diakui, guru juga memiliki tantangan-tantangan tersendiri sebagai individu. Namun tetap, tanggung jawab seorang guru ialah terus menjadi lebih baik sesuai profesinya.

Dengan kegiatan membaca dan menulis, guru bisa membuktikan kalau dirinya terus berkembang menjadi lebih baik. Dengan membaca dan menulis juga, guru bisa memperluas perannya bukan hanya sekedar pendidik dalam sebuah sekolah, tapi juga berguna bagi masyarakat yang lebih luas. Hingga akhirnya figur guru tidak lagi dipahami sempit atau terbatas, tapi bertransformasi menjadi inspirator dan inovator bagi banyak orang. (more…)

Bebas dari Alasan Tidak (Mampu) Menulis (ATM)

SQ. Sebenarnya, ini tulisan untuk menegur diri saya agar lebih produktif menulis. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali mengunjungi Kota Bandung, ada satu hikmah yang selalu menjadi pengingat –pembelajaran bagi saya. Waktu itu, saya terkesan dengan mudah dan banyaknya sarana untuk mengembangkan diri di kota besar ini.

Saya melihat betapa megah dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, tempat-tempat kursus yang bisa mengasah berbagai keterampilan, hingga toko-toko buku yang lengkap dan memberikan harga murah. Dengan fasilitas tersebut, kita bukan hanya bisa mengecap pendidikan resmi, tapi juga bisa mengembangkan keterampilan lain secara otodidak. (more…)

Tentang Trio Menulis (TTM): Menulis Mudah, Menulis Ringan, dan Menulis Serius

SQ. Satu topik yang sering “digoreng” di antara para pemula hingga penggiat menulis ialah bahasan tentang: menulis itu mudah, yang lalu menghadirkan reaksi beragam. Dimulai dari pertanyaan apa, bagaimana, dan bisakah seseorang menjadi mudah menulis? Sampai keraguan tentangnya, apa itu hanya kalimat “penyamar” saja? Untuk merubah pola pikir kita yang merasa sukar untuk menulis. Dimana sebenarnya, menulis itu tidak mudah.

Begitu isu ini “mendarat” ke hadapan saya, ada beberapa hal yang terpikir. Pertama, saya lebih menyenangi kata “menantang”. Dimana dalam menulis, kita sebenarnya bisa memilih, tantangan seperti apa dan di level mana kita ingin menjajal kemampuan. Dan itulah yang menentukan, apakah seseorang bisa menulis dengan mudah atau tidak. (more…)

Perenungan pada Tujuan Menulis

SQ.Setiap individu pasti memiliki tujuan dalam melakukan sesuatu. Seorang orator misalnya, yang bertujuan “membakar” semangat pendengarnya. Seorang kreator yang bertujuan agar ciptaannya bisa dinikmati orang banyak. Hingga yang lebih “canggih”, seorang seniman yang bukan hanya bertujuan membuat karya bernilai estetika, tapi juga mengangandung pesan rahasia didalamnya.

Hal serupa pastinya juga terjadi pada seorang penulis. Kenapa dan untuk apa seseorang menulis? Dan apa tujuan tulisan-tulisan yang dilahirkan? Hal ini patut terpapar dari awal. Dan saat itu sudah ditetapkan, saya percaya, tujuan tersebut akan memiliki banyak makna. Bukan hanya sekadar target yang ingin dicapai, tapi juga menjadi motivator dan pembentuk pribadi yang memperjuangkannya.

(more…)

Ketika (Saya) Belajar Menulis Novel

SQ.Alkisah dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menjajal sebuah kemampuan baru, yaitu menulis novel. Hal yang sangat menantang, karena jujur saja, saya tidak begitu ngeh untuk menulis karya fiksi. Saya memang penyuka novel. Tapi untuk urusan menulisnya, nanti dulu.

Bagi saya, menulis novel lebih repot ketimbang menulis buku. Buku bisa dibuat dari kumpulan-kumpulan artikel yang memiliki tema sama. Seperti buku Proses Kreatif, selama memiliki kesatuan ide yang ingin disampaikan, kumpulan tulisan sudah bisa dibukukan.

Memang untuk permisalan yang lebih menantang, ada juga buku yang dibuat untuk memperkenalkan sebuah konsep. Buku Quantum Ikhlas atau ESQ misalnya, memerlukan proses riset mendalam untuk menulisnya. Karena setiap babnya perlu memiliki hubungan yang kontinyu, analogi-analogi yang saling berhubungan, serta logika yang tidak lepas dari apa yang ingin disampaikan. (more…)