Tantangan Guru di Zaman Kekinian

SQ. Memperingati Hari Guru Nasional kali ini justru mengingatkan saya pada sebuah meme  sindiran: “Guru dibayar murah untuk memperbaiki akhlak anak-anak.  Artis dibayar mahal untuk merusak akhlak anak-anak.”  Bagi saya meme ini menandai betapa besarnya tantangan guru di zaman kekinian.

Zaman dulu –saat saya masih menjadi anak sekolah, guru dibayar murah. Malah lebih murah daripada zaman sekarang. Hingga tidak pantas rasanya membandingkannya dengan penghasilan artis. Saya ingat banyak guru yang berusaha menambah penghasilan jadi pedagang kecil-kecilan dan tukang ojek. Sampai-sampai ada sinetron guru yang merangkap tukang ojek.

Namun fokus saya bukan itu. Fokus saya ialah bagian dimana guru mesti memperbaiki akhlak murid-muridnya, berhadapan dengan begitu banyak sinetron dan acara televisi di zaman sekarang yang sudah “menggila” dalam berkompetisi di pasar hiburan, hingga menjual hal-hal yang dengan jelas bisa merusak moral dan nilai-nilai pendidikan. (more…)

Kenapa (Mesti) Menjadi Guru?

Ini mungkin pertanyaan klise. Dengan jawaban yang jua tak banyak berubah, mulai dari alasan paling klasik, mendidik ialah panggilan jiwa, hingga alasan simpel seperti sekedar menambah pengalaman hidup. Tapi saya tertarik menulis ini, membedahnya lagi, karena perasaan nostalgia. Perasaan di masa lalu yang sering membuat saya berefleksi dan mengingatkan, ada pembelajaran, konsekwensi, dan tanggung jawab yang saya terima saat saya berproses hingga akhirnya menjadi guru.

Waktu itu saya masih menjadi pemikir dan pengamat, bukan praktisi di belantara pendidikan. Saya belum  beruntung diangkat menjadi guru PNS. Juga tidak mau menjadi guru honorer, karena gajinya yang kecil.

Katakanlah, saya orang yang menghitung pamrih. Tapi bagi saya, menjadi guru ialah profesi yang harusnya tidak bisa ditawar. Profesi yang jika saya sudah memutuskan untuk menggelutinya, maka saya harus benar-benar mendalaminya. Dan untuk itu, profesi itu harusnya bisa memenuhi kebutuhan dasar dan fungsional saya dalam bekerja. (more…)

Guru Profesional, Pembaca, dan Penulis

 

 

 

 

 

Menyoal kemampuan membaca dan menulis bagi guru, rasanya tak bisa lepas dari sisi profesionalisme guru itu sendiri. Kenapa guru mesti membaca dan menulis? Alasannya sangat jelas.

Bahwa guru ialah figur yang memegang profesi sebagai pendidik generasi muda. Sebagai pendidik, guru mesti memberikan teladan pendidikan. Meski harus diakui, guru juga memiliki tantangan-tantangan tersendiri sebagai individu. Namun tetap, tanggung jawab seorang guru ialah terus menjadi lebih baik sesuai profesinya.

Dengan kegiatan membaca dan menulis, guru bisa membuktikan kalau dirinya terus berkembang menjadi lebih baik. Dengan membaca dan menulis juga, guru bisa memperluas perannya bukan hanya sekedar pendidik dalam sebuah sekolah, tapi juga berguna bagi masyarakat yang lebih luas. Hingga akhirnya figur guru tidak lagi dipahami sempit atau terbatas, tapi bertransformasi menjadi inspirator dan inovator bagi banyak orang. (more…)

Bebas dari Alasan Tidak (Mampu) Menulis (ATM)

SQ. Sebenarnya, ini tulisan untuk menegur diri saya agar lebih produktif menulis. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali mengunjungi Kota Bandung, ada satu hikmah yang selalu menjadi pengingat –pembelajaran bagi saya. Waktu itu, saya terkesan dengan mudah dan banyaknya sarana untuk mengembangkan diri di kota besar ini.

Saya melihat betapa megah dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, tempat-tempat kursus yang bisa mengasah berbagai keterampilan, hingga toko-toko buku yang lengkap dan memberikan harga murah. Dengan fasilitas tersebut, kita bukan hanya bisa mengecap pendidikan resmi, tapi juga bisa mengembangkan keterampilan lain secara otodidak. (more…)

Tentang Trio Menulis (TTM): Menulis Mudah, Menulis Ringan, dan Menulis Serius

SQ. Satu topik yang sering “digoreng” di antara para pemula hingga penggiat menulis ialah bahasan tentang: menulis itu mudah, yang lalu menghadirkan reaksi beragam. Dimulai dari pertanyaan apa, bagaimana, dan bisakah seseorang menjadi mudah menulis? Sampai keraguan tentangnya, apa itu hanya kalimat “penyamar” saja? Untuk merubah pola pikir kita yang merasa sukar untuk menulis. Dimana sebenarnya, menulis itu tidak mudah.

Begitu isu ini “mendarat” ke hadapan saya, ada beberapa hal yang terpikir. Pertama, saya lebih menyenangi kata “menantang”. Dimana dalam menulis, kita sebenarnya bisa memilih, tantangan seperti apa dan di level mana kita ingin menjajal kemampuan. Dan itulah yang menentukan, apakah seseorang bisa menulis dengan mudah atau tidak. (more…)