Tantangan Guru di Zaman Kekinian

SQ. Memperingati Hari Guru Nasional kali ini justru mengingatkan saya pada sebuah meme  sindiran: “Guru dibayar murah untuk memperbaiki akhlak anak-anak.  Artis dibayar mahal untuk merusak akhlak anak-anak.”  Bagi saya meme ini menandai betapa besarnya tantangan guru di zaman kekinian.

Zaman dulu –saat saya masih menjadi anak sekolah, guru dibayar murah. Malah lebih murah daripada zaman sekarang. Hingga tidak pantas rasanya membandingkannya dengan penghasilan artis. Saya ingat banyak guru yang berusaha menambah penghasilan jadi pedagang kecil-kecilan dan tukang ojek. Sampai-sampai ada sinetron guru yang merangkap tukang ojek.

Namun fokus saya bukan itu. Fokus saya ialah bagian dimana guru mesti memperbaiki akhlak murid-muridnya, berhadapan dengan begitu banyak sinetron dan acara televisi di zaman sekarang yang sudah “menggila” dalam berkompetisi di pasar hiburan, hingga menjual hal-hal yang dengan jelas bisa merusak moral dan nilai-nilai pendidikan. (more…)

Cerpen: Mimpiku Tentang Sekolah

 

Oleh:*Syamsuwal Qomar

Matahari belum lama terbit. Namun lalu lintas di perempatan jalan Pangeran Antasari sudah mulai memadat. Barisan mobil dan motor yang mesti berhenti, menunggu lampu merah, sudah mulai panjang. Dan seperti biasa, segerombol pengamen dan pengemis langsung merubung mereka. Seperti semut mengerubuti gula.

Aku yang ikut mengemis mulai mengetuk jendela-jendela mobil terdekat. Menunggu tangan yang mengulurkan seribuatau dua rupiah. Tak peduli mereka melakukannya karena memang kasihan, takut, atau terganggu dengan kehadiranku.Yang penting, aku bisa mendapat duit dari mereka.

Entah kenapa, tiba-tiba ada suara ramai yang khas, menyeruak diantara hiruk pikuk suara motor dan mobil. Sesuatu yang merenggut perhatianku.Suara itu, tawa berderai anak-anak seumur diriku. Mereka yang bergerombol berjalan kaki bersama. Dengan baju putih dan bawahan biru tua yang bersih dan rapi. (more…)

Bebas dari Alasan Tidak (Mampu) Menulis (ATM)

SQ. Sebenarnya, ini tulisan untuk menegur diri saya agar lebih produktif menulis. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali mengunjungi Kota Bandung, ada satu hikmah yang selalu menjadi pengingat –pembelajaran bagi saya. Waktu itu, saya terkesan dengan mudah dan banyaknya sarana untuk mengembangkan diri di kota besar ini.

Saya melihat betapa megah dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, tempat-tempat kursus yang bisa mengasah berbagai keterampilan, hingga toko-toko buku yang lengkap dan memberikan harga murah. Dengan fasilitas tersebut, kita bukan hanya bisa mengecap pendidikan resmi, tapi juga bisa mengembangkan keterampilan lain secara otodidak. (more…)

Perenungan pada Tujuan Menulis

SQ.Setiap individu pasti memiliki tujuan dalam melakukan sesuatu. Seorang orator misalnya, yang bertujuan “membakar” semangat pendengarnya. Seorang kreator yang bertujuan agar ciptaannya bisa dinikmati orang banyak. Hingga yang lebih “canggih”, seorang seniman yang bukan hanya bertujuan membuat karya bernilai estetika, tapi juga mengangandung pesan rahasia didalamnya.

Hal serupa pastinya juga terjadi pada seorang penulis. Kenapa dan untuk apa seseorang menulis? Dan apa tujuan tulisan-tulisan yang dilahirkan? Hal ini patut terpapar dari awal. Dan saat itu sudah ditetapkan, saya percaya, tujuan tersebut akan memiliki banyak makna. Bukan hanya sekadar target yang ingin dicapai, tapi juga menjadi motivator dan pembentuk pribadi yang memperjuangkannya.

(more…)

Ketika (Saya) Belajar Menulis Novel

SQ.Alkisah dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menjajal sebuah kemampuan baru, yaitu menulis novel. Hal yang sangat menantang, karena jujur saja, saya tidak begitu ngeh untuk menulis karya fiksi. Saya memang penyuka novel. Tapi untuk urusan menulisnya, nanti dulu.

Bagi saya, menulis novel lebih repot ketimbang menulis buku. Buku bisa dibuat dari kumpulan-kumpulan artikel yang memiliki tema sama. Seperti buku Proses Kreatif, selama memiliki kesatuan ide yang ingin disampaikan, kumpulan tulisan sudah bisa dibukukan.

Memang untuk permisalan yang lebih menantang, ada juga buku yang dibuat untuk memperkenalkan sebuah konsep. Buku Quantum Ikhlas atau ESQ misalnya, memerlukan proses riset mendalam untuk menulisnya. Karena setiap babnya perlu memiliki hubungan yang kontinyu, analogi-analogi yang saling berhubungan, serta logika yang tidak lepas dari apa yang ingin disampaikan. (more…)