Bebas dari Alasan Tidak (Mampu) Menulis (ATM)

SQ. Sebenarnya, ini tulisan untuk menegur diri saya agar lebih produktif menulis. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali mengunjungi Kota Bandung, ada satu hikmah yang selalu menjadi pengingat –pembelajaran bagi saya. Waktu itu, saya terkesan dengan mudah dan banyaknya sarana untuk mengembangkan diri di kota besar ini.

Saya melihat betapa megah dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, tempat-tempat kursus yang bisa mengasah berbagai keterampilan, hingga toko-toko buku yang lengkap dan memberikan harga murah. Dengan fasilitas tersebut, kita bukan hanya bisa mengecap pendidikan resmi, tapi juga bisa mengembangkan keterampilan lain secara otodidak. (more…)

Cerpen SQ: Mimpiku tentang Sekolah

SQ. Matahari belum lama terbit. Namun lalu lintas di perempatan jalan Pangeran Antasari sudah mulai memadat.  Barisan mobil dan motor yang mesti berhenti, menunggu lampu merah, sudah mulai panjang. Dan seperti biasa, segerombol pengamen dan pengemis langsung merubung mereka. Seperti semut mengerubuti gula.
 
Aku yang ikut mengemis mulai mengetuk jendela-jendela mobil terdekat. Menunggu tangan yang mengulurkan seribu atau dua rupiah. Tak peduli mereka melakukannya karena memang kasihan, takut, atau terganggu dengan kehadiranku. Yang penting, aku bisa mendapat duit dari mereka. (more…)

Ketika (Saya) Belajar Menulis Novel

SQ.Alkisah dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menjajal sebuah kemampuan baru, yaitu menulis novel. Hal yang sangat menantang, karena jujur saja, saya tidak begitu ngeh untuk menulis karya fiksi. Saya memang penyuka novel. Tapi untuk urusan menulisnya, nanti dulu.

Bagi saya, menulis novel lebih repot ketimbang menulis buku. Buku bisa dibuat dari kumpulan-kumpulan artikel yang memiliki tema sama. Seperti buku Proses Kreatif, selama memiliki kesatuan ide yang ingin disampaikan, kumpulan tulisan sudah bisa dibukukan.

Memang untuk permisalan yang lebih menantang, ada juga buku yang dibuat untuk memperkenalkan sebuah konsep. Buku Quantum Ikhlas atau ESQ misalnya, memerlukan proses riset mendalam untuk menulisnya. Karena setiap babnya perlu memiliki hubungan yang kontinyu, analogi-analogi yang saling berhubungan, serta logika yang tidak lepas dari apa yang ingin disampaikan. (more…)

Pengendali Mimpi Ber-setting Banua Kalsel ( Resensi Oneironaut, Sang Pengendali Mimpi )

SQ. Oneironaut bercerita tentang seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Sami Akbar, yang kuliah di UNSUR, Universitas Sultan Suriansyah. Sam diceritakan mengalami mimpi-mimpi aneh. Awalnya mimpi-mimpi itu hanya dalam bentuk potongan-potongan cahaya yang kadang terang dan redup. Hingga kemudian, membentuk bayangan-bayangan dan keberadaan dirinya di dalamnya.

Sam tidak menanggapi serius mimpi-mimpi itu. Sampai akhirnya, ia bermimpi terdampar dalam sebuah alam –kota khayali dan bertemu sosok yang merasuki pikirannya. Ia pun merasakan sakit dari dalam kepalanya dan terbangun, mendapati kalau rasa sakit itu terus membekas dan semakin membuatnya penasaran.

Ia mulai berusaha mencari tahu bersama teman akrabnya di satu kampus, Acit. Mereka mengumpulkan informasi dari buku-buku di perpustakaan kampus dan internet. Tanpa diduga, seiring dengan usaha mereka mencari informasi, beberapa kejadian aneh terus terjadi. Mimpi Sam seolah berkembang menjadi pertanda, saat ia bisa menghindari kecelakaan yang bisa saja menimpanya. Sementara Acit, juga berhasil menghindarkan mobilnya dari tabrakan truk di saat-saat terakhir. (more…)

Kesan dari Diskusi Novel Kalimantan Selatan: Pembelajaran Menuju Novel Kalimantan Selatan Berkualitas

SQ. Sekitar dua minggu yang lalu, bang H.E Benyamin mengirimkan undangan acara diskusi bersama, perkembangan novel di Kalimantan Selatan, yang digelar di Perpustakaan Kota Banjarbaru pada Jum’at malam. Syukur alhamdulillah, saya mampu memenuhi undangan tersebut.

Ini ialah pertemuan pertama saya dengan tokoh-tokoh penulis Banua, setelah beberapa tahun tidak terlalu mengikuti perkembangannya. Beberapa figur yang berhadir sudah saya kenal, yaitu Randu Alamsyah, novelis Jazirah Cinta; Sandy Firli, Novelis Rumah Debu; serta beberapa tokoh yang saya “tua” kan; penulis dan pemerhati sastra; Bang H.E Benyamin, Pak Sainul Hermawan, dan Bang Zulfaisal Putra. Sementara beberapa tokoh yang baru saya kenal waktu itu, sekarang sudah menjalin pertemanan lewat FB. (more…)