Metode Pendidikan Berkualitas: Meluaskan Pengetahuan Siswa dengan Peta Semantik

Mulyasa dalam bukunya, Menjadi Guru Profesional, memberikan pandangan tentang pentingnya bagi guru untuk menjadi pemindah kemah. Pemindah kemah ialah istilah untuk seseorang yang membantu peserta didik berpindah mencoba hal-hal baru. Hal ini dilakukan untuk memperkaya pengetahuan dan kepribadian peserta didik.

Sebagai pemindah kemah, berarti guru juga berperan sebagai swinger yang berpindah dari satu posisi ke posisi lain khususnya dalam ide. Hal ini bisa terefleksi setelah guru memunculkan metode pendidikan yang variatif dan berkualitas. Metode pendidikan yang berorientasi pada kreativitas dan memotivasi peserta didik untuk terus mengeksplor pengetahuan serta keterampilan.

Satu metode yang sangat layak diimplementasikan, karena memberikan pengalaman berpikir yang luas, tantangan dalam menganalisa, dan pengorganisasian pengetahuan bagi peserta didik ialah peta semantik. Peta semantik atau lebih dikenal sebagai semantic mapping, identiknya banyak digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Namun tentu saja, tidak menutup kemungkinan metode ini juga bisa digunakan dalam mata pelajaran lain. (more…)

Guru Profesional, Pembaca, dan Penulis

 

 

 

 

 

Menyoal kemampuan membaca dan menulis bagi guru, rasanya tak bisa lepas dari sisi profesionalisme guru itu sendiri. Kenapa guru mesti membaca dan menulis? Alasannya sangat jelas.

Bahwa guru ialah figur yang memegang profesi sebagai pendidik generasi muda. Sebagai pendidik, guru mesti memberikan teladan pendidikan. Meski harus diakui, guru juga memiliki tantangan-tantangan tersendiri sebagai individu. Namun tetap, tanggung jawab seorang guru ialah terus menjadi lebih baik sesuai profesinya.

Dengan kegiatan membaca dan menulis, guru bisa membuktikan kalau dirinya terus berkembang menjadi lebih baik. Dengan membaca dan menulis juga, guru bisa memperluas perannya bukan hanya sekedar pendidik dalam sebuah sekolah, tapi juga berguna bagi masyarakat yang lebih luas. Hingga akhirnya figur guru tidak lagi dipahami sempit atau terbatas, tapi bertransformasi menjadi inspirator dan inovator bagi banyak orang. (more…)

Sekelumit Kisah dari Program Sekolah Adiwiyata

Selalu ada kesibukan yang membuat saya macet untuk rutin menulis. Untungnya, kesibukan itu juga kerap membawa inspirasi bagi saya. Menjadikan saya memiliki ide-ide untuk menuliskan pengalaman selanjutnya.

Kesibukan saya sebagai guru itu bukan hanya sebatas mengajar di kelas dan merancang administrasi pendukung pembelajaran.  Menjadi guru berarti kita mesti siap disibukkan banyak hal. Diantaranya, bisa saja mendapatkan tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah, bendahara sekolah, pembina osis atau ekstrakurikuler, pengelola barang atau sarpras, hingga operator sekolah. Belum lagi kalau misalkan sekolah menjalankan program tambahan, seperti sekolah inklusi misalnya.

Seperti sekolah saya yang tahun ini mencoba menjalankan program sekolah adiwiyata. Ini ialah program kerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup setempat, agar siswa-siswa sekolah tahu hingga sadar untuk melestarikan lingkungan hidup. Untuk itu, sekolah mesti memiliki upaya-upaya terpadu untuk memahamkan warganya tentang  pentingnya memelihara lingkungan hidup. (more…)

Cerpen: Mimpiku Tentang Sekolah

 

Oleh:*Syamsuwal Qomar

Matahari belum lama terbit. Namun lalu lintas di perempatan jalan Pangeran Antasari sudah mulai memadat. Barisan mobil dan motor yang mesti berhenti, menunggu lampu merah, sudah mulai panjang. Dan seperti biasa, segerombol pengamen dan pengemis langsung merubung mereka. Seperti semut mengerubuti gula.

Aku yang ikut mengemis mulai mengetuk jendela-jendela mobil terdekat. Menunggu tangan yang mengulurkan seribuatau dua rupiah. Tak peduli mereka melakukannya karena memang kasihan, takut, atau terganggu dengan kehadiranku.Yang penting, aku bisa mendapat duit dari mereka.

Entah kenapa, tiba-tiba ada suara ramai yang khas, menyeruak diantara hiruk pikuk suara motor dan mobil. Sesuatu yang merenggut perhatianku.Suara itu, tawa berderai anak-anak seumur diriku. Mereka yang bergerombol berjalan kaki bersama. Dengan baju putih dan bawahan biru tua yang bersih dan rapi. (more…)

Bebas dari Alasan Tidak (Mampu) Menulis (ATM)

SQ. Sebenarnya, ini tulisan untuk menegur diri saya agar lebih produktif menulis. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali mengunjungi Kota Bandung, ada satu hikmah yang selalu menjadi pengingat –pembelajaran bagi saya. Waktu itu, saya terkesan dengan mudah dan banyaknya sarana untuk mengembangkan diri di kota besar ini.

Saya melihat betapa megah dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, tempat-tempat kursus yang bisa mengasah berbagai keterampilan, hingga toko-toko buku yang lengkap dan memberikan harga murah. Dengan fasilitas tersebut, kita bukan hanya bisa mengecap pendidikan resmi, tapi juga bisa mengembangkan keterampilan lain secara otodidak. (more…)