Saat Qolbu (Saya) Terpidana

Posted on October 13, 2008
Filed Under Menulis Pengalaman di Blog |

SUARA QOLBU. Setelah seminggu berlibur bersama keluarga pasca lebaran, saya pun kembali pada rutinitas pekerjaan. Seminggu terakhir, menyelesaikan beberapa tugas jurnalistik yang tersisa. Serta membuat “renstra” dengan beberapa teman untuk tahun depan. Akhirnya bisa juga kembali bersilaturahmi dengan kawan-kawan di dunia nirjarak, setelah absen hampir setengah bulan lamanya.

Usai hari raya, hampir tak ada kabar yang saya golongkan istimewa. Kecuali booming terpuruknya keadaan ekonomi negara adidaya AS, akibat kredit macet yang menimpa Lehman-Brothers dan membuat banyak perusahaan di negara tersebut bertumbangan. Itupun tidak terlalu hangat lagi. Karena di telan berita penerimaan PNS besar-besaran Oktober-November ini.

Hingga akhirnya, “kabar yang benar-benar istimewa” datang dari teman saya. Teman yang satu ini mempertanyakan legalitas koran tempat saya bekerja –Bandjarbaroe Post. Maka saya bilang, Bandjarbaroe Post adalah koran kerja sama Pemko Bandjarbaroe Post-PK GAGAH GROUP. Resmi dan rutin terbit setiap bulan. Sampai sekarang bulan oktober , BeBePost telah terbit no 092 yang berarti sudah hadir dan nyata selama lebih dari 7 tahun.

Memang koran ini sedikit berbeda. Bandjarbaroe Post dicetak sebatas 1000 eksemplar dan tidak dijual untuk umum. Koran ini dibagikan gratis dan didistribusikan langsung kepada pimpinan instansi-instansi  pemerintah kota, perusahaan-perusahaan terkemuka, bank, hotel, developer, sekolah, serta berbagai tempat hiburan dan usaha di kota Idaman.

Segmen beritanya pun berbeda. Tidak seperti koran-koran daerah yang memiliki rubrik kriminalitas, politik, hukum, ekonomi dan olahraga, Bandjarbaroe Post ialah koran yang menggambarkan Banjarbaru dari segi pendidikan, pemerintahan, pemukiman, serta bisnis.

Bekerja sama dengan pemko Banjarbaru, Bebe Post memberikan kesempatan bagi siapa saja yang tertarik untuk berpromosi. Karena memang, koran ini berniat membantu promosi berbagai usaha satu sama lainnya. Serta mengetahui, seberapa besar perkembangan bisnis di kota Banjarbaru.

Setelah menjelaskan dengan detail, saya kemudian bertanya balik, kenapa kawan yang satu ini “tumben-tumbennya” ingin tahu lebih dalam. Rupanya ia mendapat informasi, ada yang mengatakan koran tempat saya bekerja cumalah media untuk memeras, baik melalui iklan maupun berita, serta diragukan tujuan dan keberadaannya. Spontan saya langsung kaget mendengar jawaban itu.

Ya, sebagai wartawan, adakalanya saya diperlakukan dengan sangat tidak ramah. Namun ada dua hal yang membuatnya begitu sakit kali ini. Pertama, setelah saya periksa kembali, pihak yang berucap demikian masih terhitung keluarga dari teman dekat saya. Kedua, yang begitu saya sesalkan, si pelaku berkampanye kesana kemari tentang keburukan media tanpa tahu kebenarannya.

Pemicu dari pernyataan itu sendiri, karena kemarin dia melihat BebePost diiringi surat penawaran untuk iklan hari raya Idul Fitri. Serta dengan sangat kebetulan, saya meminta pendapat keluarganya –yang juga teman akrab saya, untuk mengisi rubrik pendidikan.

Ia mengira, kami memaksa orang-orang agar bisa dibuat berita untuk kemudian dipintai dana. Padahal, kami cukup meminta informasi dan selesai. Tidak ada aksi lanjutan untuk itu. Memang ada beberapa institusi atau perusahaan yang kami tawarkan untuk bekerja sama, baik melalui iklan maupun dana cetak. Siapa tahu mereka ingin mempromosikan bisnis, produk atau tempat usahanya. Namun itupun hanya  tawaran. Tidak ada paksaan apalagi pemerasan. Mereka punya hak penuh menolaknya.

Hal ini kembali menyadarkan saya,  setiap pekerjaan memiliki sisi negatif. Dihina, dicerca, dan difitnah sudah menjelma jadi asam garam kehidupan.Sekalipun oleh orang yang begitu dekat. Apalagi wartawan yang sering serba salah. Menulis kebaikan bisa dianggap menjilat. Menulis keburukan bisa dianggap memfitnah. Sampai dituduh sengaja memajang berita untuk meminta duit.

Pada kenyataannya, tidak semua media serta wartawan seperti itu. Hal ini sangat bergantung individu dan “qolbu” si pekerja. Apa niat dia bekerja? Bila dari awal memang ingin memeras, tak perlu menjadi wartawan, jadi apapun dia akan jadi pemeras. Sudah banyak contoh yang terjadi tentang hal ini.

Dan sekali lagi, menutup masalah tersebut, saya pun harus membuktikan kalau seremonial bermaafan tidak hanya mesti di gelar sewaktu lebaran. Saya sudah memaafkan orang-orang seperti demikian untuk membuat qolbu saya semakin dewasa. Sebab bila saya “memukul balik” dengan emosi, maka saya tidak memiliki perbedaan dengan orang-orang seperti demikian adanya.

Comments

12 Responses to “Saat Qolbu (Saya) Terpidana”

  1. Syamsuddin Ideris on October 13th, 2008 10:03 pm

    Jadi nggak hari raya kemarin silaturrahim ke Kandangan. Waduh, dulu kok lupa ya minta nomor hp biar bisa menghubungi via telpon. Jadi tidak sempat deh ketemua di kandangan. Padahal di rumah sudah disiapin makanan: ketupat, lemang, dodol, dsb. Tidak rejeki kali ya kita bertemu.

    Mengenai sisi negatif pekerjaan, menurut saya sih udah biasa. Jangankan wartawan yang pekerjaannya berhubungan dengan banyak orang, Guru yang kelihatannya “adem ayem” damai selalu karena tidak banyak risiko saja sampai bertaruh nyawa lho.

    Saya pernah didatangi orang tua murid pakai senjata tajam. Mungkin mau dibunuh kali ya, tapi nggak jadi. Pasalnya, orang tua tsb tidak terima anaknya saya hukum berdiri dimuka kelas. Mungkin sang Ortu merasa jagoan jadi datang kesekolah, menantang, mengancam, dst. Alhamdulillah tidak jadi kesampaian, malahan sekarang jadi sahabat baik saya.

    Jadi kesimpulannya, jangan anggap pekerjaan kita paling berat, dan pekerjaan orang lain enak dan mudah. Hal ini karena kita tidak tahu saja sisi negatif pekerjaan lain. Kata pepatah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Hiks, nyambung nggak ya …

  2. genthokelir on October 14th, 2008 2:41 am

    sabar mas dalam satu proses perkembangan tertentu kita akan menemukan dua hal yaitu menerima dengan baik dan kadang penolakan namun sisi penolakan ataupun negatif memang sering mendominasi dalam sebuah perubahan kearah yang lebih maju dalam segala hal memang kita harus memaklumi setiap isi kepala orang masing masing berbeda ,yang penting jalani pekerjaan dengan menjunjung profesionalitas itu saja ,iklas menjadi iksan kan mas …tentu pekerjaan anda memang bukan pekerjaaan yang mudah dan banyak sekali rintangan apalagi untuk menjadi wartawan yang seperti mas Qolbu itu tentu sangat rawan dengan berbagai iri dengki namun saya yakin anda malah bakal menjadi yang luar biasa karena anda memang mampu menunjukkan eksistensi diri anda jikala anda menuai cercaan ( tempat anda bekerja ) itu berarti eksistensi diri anda mulai akan diperhitungkan banyak orang saya salut dan ikut berdoa semoga tetap sukses selalu

  3. Zulmasri on October 14th, 2008 5:19 am

    semua terpulang pada pribadi seseorang, mau jadi teladan atau oknum.

    tidak dinafikan, pernah dan begitu populer dulu istilah wartawan amplop. istilah yg merusak citra dunia pers tentunya

  4. sawali tuhusetya on October 14th, 2008 2:13 pm

    bidang pekerjaan apa pun pasti banyak tantangannya, mas sam. yang penting kita teguhkan keyakinan *halah kok sok nasihatin* bahwa apa yang kita lakukan bukan sesuatu yang buruk dan tidak merugikan orang, bahkan memiliki manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan. anggap saja itu sebagai kritik yang akan membuat kita makin arif dan bijak. suatu ketika mereka akan tahu hal yang sesungguhnya. salam kreatif!

  5. SURIYADI on October 15th, 2008 10:52 pm

    Pertama kali ku ucapkan selamat babaju hanyar blognya..

    nang kedua menanggapi kesakit hatian kawanku nginih..
    Memang dalam dunia selalu diciptakan saling berpasangan (kaya jar situ jua dalam postingan dahulu) ada nang baik pasti ada nang buruk, ada nang mengerti pasti juga ada nang kada paham..dsb..
    Mungkin hal itulah yang selalu menjadi patokan diri kita pribadi untuk menyikapi hal tersebut diatas, biarkan saja orang berteriak semaunya asalkan kita tidak.
    Karena dengan sikap demikian akan tetap membedakan antara kita dengan orang2 yang dengki…

  6. gus on October 16th, 2008 5:49 am

    gagasan yang cemerlang kang. sayah setuju kalu kita salig bermaafan tanpa rasa sugkan kapan saja. biar selalu bisa “mulai dari nol lagi’ seperti iklannya pertamia…

  7. SQ on October 17th, 2008 2:07 pm

    @Syamsuddin Ideris: Kemarin saya ngak sempat kesana bang Ideris. Liburnya ke Anjir dan Sungkai. Mungkin lain kali ya.. :D Saya penasaran ingin “kopi darat”. Bagi2 pengalaman sama2. Terutama tentang tempat kul. kita dulu :-)

    Terima kasih masukannya. Ya, membacanya cukup menyadarkan saya. Mungkin saya terkesan sedikit mengeluh ya. Padahal semua orang pasti punya tantangan dalam pekerjaannya. Hanya karena pekerjaan saya agak sedikit beda dbanding teman2 lainnya.

    “Tapi asyik juga ceritanya sampiyan bang” :lol:

    @Genthokelir: Iya mas totok. Terima kasih advisnya. Mungkin saya sedikit merasa emosi. Jadinya terlihat hanya melihat aspek negatifnya. Padahal, ujian pasti membawa kenaikan pangkat. Bila dilewati dengan bijak.

    Yang saya suka, berarti saya diperhatikan dan diperhitungkan donk. :lol:

    @Zulmasri: Ya. kalau bagian itu, saya sering dituduh demikian pak Zul. Tapi saya cuek aja. Karena saya tidak pernah minta bayaran dari Narasumber.

    Kali ini begitu “spesial”, karena datang dari keluarga teman. yang saya kira, sudah tahu I.D tempat saya bekerja.

    @Sawali Tuhusetya: Ya pak. Mungkin kali ini saya merasa sedikit “tersentil”. Karena datang dari sumber yang tidak diduga. Ya. Selama itu tidak benar. Suatu saat pasti terbukti kebenarannya.

    @Suriyadi: Sama-sama pak Sur. kayaknya koneksi Internet di BJB agak sedikit “trouble” ya? Jadi rada susah memanage blog. Di N.C gimana?

    Ya, pernyataan sampiyan menyadarkan saya. Kalau segala sesuatu pasti berimbang. (jadi ingat postingan saya dulu :lol: ) Thanx. Selamat mengajar kembali di SMUGA usai lebaran. :D

    @Gus:Kembali ke 0 lagi. Ya, rasanya tak ada gunanya menyimpan kelemahan, kekesalan, atau kemarahan itu. Terlalu menyita enegri mas Gus. :-)

  8. Manusiasuper on October 20th, 2008 4:55 pm

    Halo boss, terus maju…

    Saya mau nanya, bos korannya kaya banget ya? Sampai bagi-bagi koran gratis sampai 7 tahun.. Biasanya koran dibagi gratis itu cuma pas tahap perkenalan.. Gaji pegawainya dapat dari mana? Jangan-jangan wartawannya juga kerja bakti gratis? Wuiihh, mulia sekali media anda boss…

  9. Manusiasuper on October 20th, 2008 4:59 pm

    Bah. Moderasi….. halaman ini berarti saya printscreen sebagai barbbuk sementara buat saya

  10. Fortynine on October 23rd, 2008 6:18 am

    Bandjarbaroe Post adalah koran kerja sama Pemko Bandjarbaroe Post-PK GAGAH GROUP. Resmi dan rutin terbit setiap bulan. Sampai sekarang bulan oktober , BeBePost telah terbit no 092 yang berarti sudah hadir dan nyata selama lebih dari 7 tahun.

    Kerjasama ini dalam hal apa ya? Apakah kerjasamanya adalah Pemko Banjarbaru memberi duit untuk operasional koran dan lantas koran memuat yang bagus bagus soal Pemko Banjarbaru?

    Oh iya, ini siapa yang menuduh anda sih? Apa saya bisa dapat linknya? Sehingga artikel ini juga kesannya tidak sembarangan tuduh. Karena soal link sangat diperlukan guna memperkuat fakta fakta. Setidaknya sebagai bukti. Terima kasih…

  11. Fortynine on October 23rd, 2008 6:20 am

    Moderasi! Kalau begitu….. Seluruh halaman ini saya simpan berikut komentarnya guna mengantisipasi terjadinya pemutilasian dan pemodifikasian artikel dan komentar, khususnya komentar manusiasuper dan saya.

  12. Tantangan Terbuka « Generasi Biru on November 24th, 2008 10:01 am

    [...] saya tahu bahwasanya komentar saya dan manusiasuper hilang? Ya karena ketika membuka lagi halaman ini, tidak ada lagi komentar saya yang selama ini dihiasi kata kata tambahan: komentar anda sedang [...]

Leave a Reply