Internet for This Nation and Education

Posted on May 29, 2009
Filed Under Artikel Internet untuk Pendidikan, Seputar E-Learning |

SQ. Popularitas Facebook bukan lagi barang baru. Namun saya sempat terkaget juga saat blogwalking dan membaca di sini. Minggu lalu, situs yang didirikan Mark Zuckerberg itu mampu menyalip Google.co.id.  Padahal di awal tahun, Facebook “hanya” mampu berada di posisi ke 6. Di bawah “pemain lama”, Yahoo dan Friendster. (www.alexa.com)

Boomingnya facebook sempat mengundang forum diskusi antara saya dengan beberapa kawan. Saya berpendapat, kekalahan Google boleh jadi gambaran umum pengguna internet di negara kita. Seorang kawan menerjemahkan lebih  kasar. “Pengguna Internet di negara kita lebih suka ngomong-ngomong (kongkow-kongkow) daripada cari informasi.” Benar atau tidaknya. WallahuA’lam.

Yang pasti, saya lebih tertarik pada bagaimana menggunakan Internet sebagai wahana pembelajaran. Masalah ramai-ramai memakai Facebook. Saya juga pakai (he..he). Namun saat berdiskusi halal-haramnya, yang terpenting ialah “the man behind the gun”. Teknologi toh hanya alat. Individulah yang menggerakkannya. Seperti Zuckerberg dan Dou Google bisa kaya dari iklan. Kenapa kita ngak bisa belajar dari internet?

Terlepas dari hiruk pikuk facebook. Saya kira sudah kewajiban kita bersama mengajak individu2 unggul di negeri ini lebih mengenal internet. Karena dari gambaran umum, negara kita masih lemah perihal awareness terhadap ICT.

Netter di Indonesia diperkirakan berjumlah 30-40 juta orang. (Bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia?) Jumlah netter itu akan menipis dengan jumlah orang-orang yang lebih mengerti internet dan memaksimalkan sesuai kebutuhan. Disaring lagi dengan mereka yang mengerti dan mendirikan blog/website. Di saring lagi dengan mereka yang punya blog/website yang berkonsep.

Jika berpulang kehabitatnya, Indonesia secara general masih sangat minim pemanfaatan ICT untuk pendidikan, alias, masih di level applying Internet (Unesco Standart). Tahapan masyarakat baru mempelajari TIK. Kita memang sudah melewati tahapan Emerging (masyarakat baru menyadari pentingnya TIK) –atau masih?, menuju integrating yaitu belajar mengintegrasikan TIK untuk perkembangan dunia pendidikan.

Meskipun saya bersyukur jua saat Webometrics melakukan perangkingan (saya dapat datanya dari pak Romy Satria Wahono), tiga universitas Indonesia dengan sangat bergigi mampu menembus 100 besar top Asia untuk Ranking Web of World Universities 2009. Tiga Universitas yang juga menjadi tiga besar se Indonesia yaitu UGM, ITB, dan UI. Dan tak kalah berbahagianya sewaktu Pak Hatta, PR I Unlam mengklaim Universitas Lambung Mangkurat masuk 50 besar situs Universitas se Indonesia. (Mudah-mudahan benar..wekkekke)

Lalu? Bagaimana cara mengajak masyarakat kita agar lebih melek ICT, terutama untuk pendidikan. Ini saran saya dalam naskah buku Oemar Bakrie Kenal Internet:

Cukup lakukan sosialisasi berupa perkenalan dan basic knowledge dulu. Insan-insan pendidikan cukup mengerti tentang search engine, e-mail, bagaimana mencari bahan/media ajar, serta mengupload renpel, itu sudah sangat membahagiakan. Bila mereka cukup antusias dengan hal ini. Baharu mereka bisa melibatkan individu lainnya. Dalam psikologi pendidikan kita mengenal teknik ini dengan nama Scaffolding.

Untuk level yang lebih tinggi, Mereka disarankan mulai belajar mendesain webblog sendiri untuk kegunaan pengajaran di sekolah. Sebagai guru contohnya, bisa memuat materi pendukung pengajaran untuk siswa, pengumuman evaluasi, tabel2 atau rumus, gambar2, hingga hal2 berguna lainnya melalui filesharing.

Yap. Kembali ke desktop. Cukup kuatkan hal-hal basic baru beranjak ke yang lebi powerfull. E-Learning? Kenapa tidak? Saat seorang teman mengkritik, pembelajaran e-learning itu kan bersifat sedemikian “mengerikan”. Kita harus membangun SDM, Infrastruktur, Kultur, hingga Learning Management System. Levelnya, bisa sampai melaksanakan Video Conference. Itu baru yang dinamakan E-Learning.

Saya katakan tidak. Toh juga ada istilah Blended E-Learning, maksudnya, pelibatan Internet serta media elektronik lainnya yang masih bercampur pengajaran tradisional. Masalah dibilang E-Learning ecek-ecek? Ya memang. Kita masih belum siap untuk Full E-Learning. Karena SDM dan E-Leadership kita masih lemah dan perlu kejujuran untuk mengakui itu.

So? Mari beranjak dari hal-hal kecil. Seperti sharing informasi yang saya lakukan di situs ini (dasar narsis)..wekekekeek. Mari sama-sama bangun blog untuk membangun peradaban yang lebih maju lewat menulis. Lets Build Internet Concept for This Nation and Education. Agar negara kita bisa lebih bergigi baik dalam persingan lokal maupun interlokal.

Comments

9 Responses to “Internet for This Nation and Education”

  1. sjahrir on May 28th, 2009 9:16 pm

    Kayaknya inilah e-learning… Mari maju saja…
    Salam.

  2. achoey on May 28th, 2009 11:14 pm

    Saya sedang mencoba
    Meski dengan cara sederhana
    Pada blog sederhana

    Maklum, saya kan Sang Sederhana :D

  3. HE. Benyamine on May 28th, 2009 11:46 pm

    Ass.

    Yap, membuka lebih banyak jalan untuk pembelajaran, dari yang paling dapat dilakukan dalam bidang IT.

    Bagaimana negara dapat lebih bergigi dalam persaingan lokal? Atau, bagaimana lokal dapat lebih berdaya dalam persaingan nasional (di dalam negara)?

    Kalau yang interlokal, biarkan saja operator telekomunikasi bersaing (semurah mungkin maunya) ha ha ha

    Salam

  4. pakde on May 29th, 2009 12:57 am

    Kembali pada masing2 pribadi, memanfaatkan media ini sebagai bagian pembelajaran, menjadikannya dunia iseng, bisnis, pertemanan atau apa.

    Proses pembelajarannya sendiri saya temukan secara otodidak dengan banyak cara, dari mulai membaca dan baca. Trial eror? Tentu. Tapi justru dengan belajar banyak gagal, saya jadi tahu sebagian cara untuk ngeblog.

    Thanks sudah meninggalkan jejak di tempat pakde.
    Salam Saya

  5. mascayo on May 29th, 2009 1:52 am

    Saya punya akun facebook, tapi saya lebih suka ngeblog.
    Ada banyak informasi yang bisa saya dapat :)

  6. trinil on May 29th, 2009 3:45 pm

    Sepakat, Perkembangan teknologi harus diikut sertakan, apalagi Internet.
    Indonesia siap bersaing dengan negara2 maju lainnya, semangat semua….

  7. reallylife on May 29th, 2009 5:49 pm

    facebook dan blog
    aku masih pilih ngeblog, masih bisa nulis-nulis yang aku mau

  8. SQ on May 31st, 2009 10:59 pm

    @ Alhamdulillah bila bisa disebut sama-sama pembelajaran. Salam balik. :-)

    @ Big thing always start from simple step. Jadi sederhana itu indah mas Achoey :-)

    @ Wss. Menurut saya bang ben, kita lemah dalam hal manajemen. Banyak potensi SDM dan SDA kita bagus-bagus. Eh yang ngegarap malah bukan dari banua. Padahal, kalau dimenej dengan baik, kita bakal nga kalah bergigi dengan yang internasional :-)

    @ Benar Pakde. Saya kira belajar otodidak itu sistem pembelajaran yang efektif. Bisa dimana saja kapan saja. Hanya, yang menjadi kendala kita juga harus menaklukkan sifat malas yang terselip dalam jiwa. :-)

    @ Sama. Saya juga lebih suka ngeblog. Apa ya…mungkin chemistry nya lebih dapet karena bisa nulis dengan bebaaaas. :-)

    @ Memang harus begitu. Indonesia lebih maju lagi. jelas jadi impian kita semua :-)

    @ Sama tho. Meskipun di FB juga ada aplikasi notebook. Tapi terbatas teman2 tuh yang koment :-)

  9. taufik79 on June 12th, 2009 1:11 pm

    Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan pula, ialah mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan internet yang akan diselenggarakan.

Leave a Reply