Suara Qolbu Memaknai Pengalaman

SUARA QOLBU. Saya punya baju kaos oblong berwarna hitam. Dengan tulisan my best teacher is my experience. Ini salah satu kaos favorit saya. Dengan baju ini saya terjun melakukan peliputan hingga sekadar jalan-jalan atau nongkrong di 21. Kenapa saya suka baju ini? Karena warnanya hitam dan pesan dari tulisannya. Namun meski begitu, saya tidak terlalu mempercayai sepenhnya apa yang tertulis di kaos itu.

Kata experience atau pengalaman bagi saya punya dua arti. Makna pertama saya ambil dari perbincangan dengan kebanyakan orang, kalau pengalaman, adalah sesuatu yang kerap terjadi berulang-ulang hingga menjadi kenormalan atau kebenaran. Contohnya, pengalaman membuktikan kalau kera makan pisang. Jadi kalau kera makan rumput. Tidak normal dan tidak benar.

Jika dibanding itu, saya lebih menyukai makna pengalaman yang lebih luas. Dalam artian, pengalaman juga membuktikan kalau segala sesuatu tidak ada yang tetap. Yang kekal justru tidak tetap. Jadi, kalau kera makan rumput atau batu. Sah-sah saja. Bukan hal yang berarti tidak benar. Selama itu tidak merugikan orang lain. Kenapa mesti repot?

Gara-gara menulis ini saya jadi tergelitik membuka KBBI, arti sebenarnya dari pengalaman adalah sesuatu yang pernah dijalani. (contoh=ia suka menceritakan pengalamannya di saat berperang melawan Belanda)

Yang sering bikin repot, tak jarang kata “pengalaman” sering di plesetkan untuk men”cap” seseorang. Dalam istilah Antony Dio Martin, pengalaman yang diplesetkan bisa menyebabkan terjadinya labelling, hingga menerka dan membuat jadi berlebih-lebihan.

Contoh, saya punya teman yang “dianggap” jarang bisa menyelesaikan tugas yang diemban. Pokoknya, jangan coba-coba memberikan pekerjaan pada orang lain ini. Sebab ia lebih suka beralasan dan terus menerus berkelit. Berkelit menutupi kekurangan atau kemalasannya. Intinya, dia di “label” pintar omong doang dan sedikit kerja.

Gara-gara label ini, teman saya itu suka jadi topik pembicaraan. Teman-teman lain yang tidak pernah berurusan dengan dia bahkan ikut-ikutan me”label” dia. Jadilah pengalaman sebagai dalil, “Pokoknya jangan berurusan dengan dia, pengalaman  membuktikan kalau si anu itu cuma omong doang dan ngak bisa kerja”. Semua yang mendengar oke-oke saja. Tanpa mengecek kebenaran statement yang berlebihan itu.

Kenapa saya bilang berlebihan? Karena setelah saya berdiskusi baik2, sang teman tidak seburuk yang dicitrakan. Dia bekerja, mengusahakan sesuatu yang diembankan. Hanya saja, sering ditemui halangan atau rintangan setelah pekerjaan dilaksanakan. Teman saya itu sering mandeg disini. Karena kurangnya komunikasi, jadinya dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin hal tersebut memang sering terjadi berulang-ulang. Namun, dalam pikiran saya, itu tidak cukup untuk me “label” seseorang. Tiap individu punya kurang dan lebih. Tidak semua orang bisa menciptakan jalan setelah menemui kebuntuan. Jika kita mau berkaca pada diri masing2? Memangnya semua pekerjaan bisa ditanggung dan kita selesaikan sendiri?

Saya yakin, pendapat-pendapat buruk berbasiskan pengalaman “sempit” tidak akan memperbaiki masalah. Saya lebih suka melihat sang teman dari sudut pandang ketidakpastian. Artinya, saya yakin teman saya bisa berubah. Apa-apa yang mesti dia lakukan itu cuma dia yang tahu. Saya cukup percaya kalau dia bisa menjadi lebih baik meski di “sambati” macam2.

Kenapa saya bisa percaya? Karena saya pernah mengalaminya. Saya pernah di “sambati” o’on. Seseorang yang lambat loading. Pemalas dan pengeluh. Tidak mau peduli dengan orang lain. Saya bahkan mengakui kalau dulu saya memang seperti itu, namun sekarang,  saya punya bukti kalau itu tidak sepenuhnya benar.

Sekarang saya bisa membuktikan kalau saya punya kemampuan. Meskipun masih jauh dari yang saya harapkan. Saya tidak menganggap diri saya sekarang hebat. Justru sebaliknya, saya bersyukur telah disadarkan oleh diri saya sendiri kalau hati saya ingin terus belajar. Menyadari kalau berbagi dengan orang lain adalah esensi hidup. Menyadari kalau dunia begitu luas. Dan saya hanyalah makhlus yang supermini di dalamnya.

Jadi kalau saya yang dulu begitu “parah” bisa berubah, kenapa teman saya tidak? Ya. Pengalaman mungkin guru yang terbaik. Namun dari beberapa sudut pandang, tidak selalu mesti benar. Yap. Experience is the best teacher, but not always become the rigth teacher.

Tagged , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Suara Qolbu Memaknai Pengalaman

  1. kambingkelir says:

    Woke sip I Agree
    Menurut pribadi saya yang terlontar sebagai label itu belum tentu sebuah Literatur namun karena sudut pandang kita yang berbeda saja
    Dan Untuk pengalaman adalah sekolah yang sebenarnya sangat setuju juga walau mungkin mahal harganya
    so pengalaman adalah guru terbaik dalam segala hal

  2. gus says:

    pengalaman berbicara lebih baik dari pada kampus kita. tapi banyak pengalaman yg menjadi tumpukan sampah karena kita enggan belajar drnya (salam kenal dr semarang Kang)

  3. flivia says:

    yupz…
    u r right. gak semua pengalaman itu baik. ada yang buruk juga. tapi dari yang buruk itu kita bisa belajar jadi lebih baik, tentu saja dengan kesadaran bahwa kita harus jadi lebih baik.
    GOOD LUCK!

  4. Pengalaman dijadikan ibroh dan bahan pembelajaran untuk perbaikan :)

    Semangat!

  5. SQ says:

    Kambing Kelir: Yap. Itu tergantung dari sudut pandang pikiran, sempit atau luasnya. Sayang kalau pengalaman minim dimaknai. Seperti kata mas K.Kelir, mahal harganya :-)

    Gus: Naudzubillahi Min Dzalik. Mudah-mudahan saya tidak termasuk pemalas seperti itu. Mudah2n kebanyakan orang yang selama ini “enggan” disadarkan mas Gus :-)

    Flivia: :-) terima kasih kunjungannya. Saya kira, baik-buruk pengalaman sangat bergantung dari “Qolbu” kita.

    Achoey: Trims kunjungannya mas Achoey :-) ,komentnya sangat representatif dengan blog sampiyan.

    Keep Spirit :-)

  6. Seharusnya bermindset … saya hebat .. karena hebat hibah Allah SWT, tapi jangan dikatakan pada yang lain. Hebat dalam arti perlu dibuktikan dengan perbuatan, dan … berujung hasil. Ketika hasil menampak, ‘saya hebat’ diteriakkan orang lain, bukan oleh kita (narsis). Saya hebat adalah motivasi diri, bukan riya atau sombong. Selamat memaknai.

  7. SQ says:

    Ersis W.A: Ya. Itu yang sedang saya lakukan sekarang pak :-) . Tapi karena ini rahasia. Ya cukup diri saya yang tahu. He..he..he :lol:

  8. Rita says:

    Jadinya jauhi underestimate yaa bang
    Oww jadi si abang juga punya “pengalaman” di o’oni orang yaa:D
    “Pengalaman mungkin guru yang terbaik, Namun dari beberapa sudut pandang, tidak selalu mesti benar”…. mmm ada tambahannya :D

  9. SQ says:

    he..he :lol: kalau di underestimate. Saya nggak tahu berapa sering mbak, kadang perasaan saya bilang saya “dihina”. Tapi saya juga tidak terlalu percaya dengan perasaan sendiri.

    Cuma, satu hal yang paling saya hindari dan takuti : adalah mengeluh tanpa berbuat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>